Virus yang tadinya terasa sangat jauh dan asing ternyata lama-lama menjangkiti Indonesia juga. Kemana orang-orang yang asal melabeli virus ini sebagai "tentara Allah" dan secara ngawur menyebutnya azab untuk orang-orang Cina?
Saat kini dimana virus ini mulai menyerang para tetangga, kerabat bahkan mereka sendiri apakah mereka tetap menyebutnya sebagai azab??
Tetapi orang-orang semacam itu memang tak kunjung sadar juga. Imbauan pemerintah untuk social distancing diabaikan dengan sengaja. Pemerintah malah dituduh anti islam segala, waduuuuhhh dasar warga ngeyelan mereka ini. Apa mereka nggak lihat negara-negara Arab bahkan sudah menerapkan dan lebih ketat pula.
Paham fatalistik dan jabariyah didengung-dengungkan oleh mereka, jangan takut Corona, takutlah pada Allah! Kata mereka.
Bentuk-bentuk ikhtiar untuk menghindari Corona makin meluas malah diartikan sebagai tindakan lebay. Adu du du ..... apa mereka tidak mengupdate keaadan di luar negeri sana????
Padahal kalau menurut saya, kita seharusnya bukan takut, melainkan taat pada Allah dan Rasul-Nya. Nabi saja sudah memberi contoh tentang bagaimana bersikap saat ada wabah. Ikhtiar untuk mengusahakan agar pagebluk tak menyebar sudah dicontohkan. Tentunya selalu dengan diiringi doa agar dikaruniai keselamatan oleh Allah.
Padahal kalau menurut saya, kita seharusnya bukan takut, melainkan taat pada Allah dan Rasul-Nya. Nabi saja sudah memberi contoh tentang bagaimana bersikap saat ada wabah. Ikhtiar untuk mengusahakan agar pagebluk tak menyebar sudah dicontohkan. Tentunya selalu dengan diiringi doa agar dikaruniai keselamatan oleh Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar